Jujur saja, kalau ada cara yang gampang, kenapa harus pilih yang susah? Tapi kalau pilih yang gampang, bukan programmer namanya. Itulah prinsip yang (tanpa sadar) kita pakai saat membangun Arahtemu.id.
Biasanya, orang bikin website undangan pernikahan itu pilihannya dua: pakai CMS full (macam WordPress plugin) atau coding dari nol (Native/Framework). Nah, di project ini, kita mikir: "Kenapa nggak dua-duanya aja? Biar pusingnya maksimal."
Maka, lahirlah sebuah eksperimen gila: Menyatukan WordPress dan PHP Native dalam satu atap.
Satu Badan, Dua Nyawa (2 Backend)
Bayangkan sebuah rumah. Ruang tamunya didesain sama arsitek modern (WordPress), tapi dapurnya kita bangun sendiri pakai batu bata dan semen (PHP Native).
- Backend 1 (WordPress): Ini tugasnya jadi "Wajah Ganteng". Dia ngurusin landing page, artikel blog, SEO, biar Google sayang sama kita. Kita butuh kemudahan WP buat ngedit konten tanpa harus git push setiap kali ada typo.
- Backend 2 (PHP Native): Ini "Otot Kawat"-nya. Dia ngurusin Dashboard User, sistem undangan, manajemen tamu, sampai fitur-fitur custom yang kalau dipaksain pakai plugin WP, servernya bisa nangis darah.
Kenapa Harus Ribet Begini?
Karena kita perfectionist (baca: keras kepala).
- Kalau pakai Full WordPress: Performanya berat buat dashboard user yang kompleks. Kebanyakan bloatware.
- Kalau pakai Full Native: Capek banget bikin sistem blog dan page builder dari nol. Kita mau coding fitur, bukan bikin CMS tandingan.
Solusinya? Hybrid. Sebuah pernikahan beda kasta yang ternyata harmonis.
Drama "Perjodohan" Kodingan
Menyatukan mereka berdua itu nggak semulus jalan tol. Rasanya kayak nyuruh orang Jawa ngobrol sama orang Medan pakai bahasa isyarat.
- Masalah Session: Login di depan (WP), tapi pas masuk dashboard (Native) malah ditanya "Siapa elo?". Kita harus bikin jembatan biar session mereka nyambung dan nggak berantem.
- Database: Tabel
wp_usersharus salaman sama tabel custom kita. Untungnya SQL itu bahasa universal, jadi mereka akur-akur saja. - Routing: Mengatur mana URL yang harus di-handle WP dan mana yang harus dibajak sama script Native kita. Salah dikit, Error 404 menyapa dengan senyuman manis.
"Coding fitur itu gampang, yang susah itu mendamaikan dua framework yang sebenarnya nggak mau kenalan."
Hasilnya? Arahtemu.id yang "Agak Laen"
Setelah menghabiskan bergelas-gelas kopi dan beberapa kali hampir banting keyboard, akhirnya Arahtemu.id lahir dengan selamat.
Sekarang, user bisa menikmati halaman depan yang loading-nya cepat dan SEO-friendly berkat WordPress, tapi begitu login, mereka masuk ke dashboard super ringan dan ngebut berbasis PHP Native murni. Tanpa plugin berat, tanpa loading muter-muter.
Apakah ini praktik terbaik? Mungkin perdebatan ahli. Apakah ini berfungsi? Sangat. Apakah kami kapok? Tentu tidak (mungkin).
Buat kalian yang mau nikah (atau mau bikin undangan digital tanpa drama), langsung aja cek Arahtemu.id. Dibuat dengan cinta, keringat, dan sedikit kenekatan teknis.
